Kamis, 06 November 2025

Investasi Emas Batangan atau Perhiasan: Mana yang Lebih Menguntungkan?

 


Emas sejak dulu dikenal sebagai simbol kemakmuran dan salah satu instrumen investasi paling aman. Namun, pertanyaan klasik yang sering muncul adalah: lebih untung manakah antara investasi emas batangan atau perhiasan?.

Keduanya memang sama-sama terbuat dari emas, tetapi punya fungsi, biaya, dan potensi keuntungan yang berbeda. Artikel ini akan membahas secara lengkap perbandingan emas batangan dan emas perhiasan, sehingga kamu bisa menentukan mana yang paling cocok untuk strategi keuanganmu.

 1. Perbedaan Dasar: Emas Batangan vs Emas Perhiasan

Aspek

Emas Batangan

Emas Perhiasan

Tujuan utama

Investasi & penyimpanan nilai

Gaya hidup & investasi tambahan

Kadar emas

Umumnya 99.99% (24 karat)

75–90% (18–22 karat)

Bentuk fisik

Batangan polos dengan sertifikat resmi

Didesain artistik, banyak variasi bentuk

Harga beli

Berdasarkan harga pasar emas murni

Termasuk biaya desain & ongkos pembuatan

Likuiditas

Mudah dijual di toko emas atau lembaga resmi

Mudah dijual, tapi harga jual bisa lebih rendah

Tujuan ideal

Tabungan/investasi jangka panjang

Aset yang bisa dipakai sekaligus bernilai

 Kesimpulan    singkat:
Emas batangan fokus pada nilai investasi murni, sedangkan perhiasan punya nilai tambah dari sisi estetika dan fungsi pemakaian.

2. Kelebihan & Kekurangan Masing-Masing

Emas Batangan

Kelebihan:

  • Nilai emas murni tinggi (24 karat);
  • Tidak ada potongan harga besar saat dijual;
  • Mudah dilacak nilainya sesuai harga pasar dunia;
  • Cocok untuk investasi jangka panjang & lindung nilai (hedging) terhadap inflasi.

Kekurangan:

  • Tidak bisa dipakai sehari-hari;
  • Butuh tempat penyimpanan aman (brankas atau safe deposit box);
  • Kurang “menarik” untuk sebagian orang karena bentuknya monoton.

 

Emas Perhiasan

Kelebihan:

  • Bisa dipakai, meningkatkan kepercayaan diri dan penampilan;
  • Mudah dijual di banyak toko emas;
  • Memiliki nilai emosional (hadiah, warisan, simbol kasih sayang).

Kekurangan:

  • Harga beli termasuk ongkos pembuatan yang bisa mencapai 10–20% dari nilai emas;
  • Saat dijual kembali, toko biasanya hanya menghitung nilai emasnya, bukan desainnya;
  • Kadar emas biasanya lebih rendah (tidak murni 24 karat);
  • Risiko tergores, rusak, atau hilang lebih tinggi.

 3. Simulasi Keuntungan: Contoh Nyata

Misalnya kamu membeli:

  • Emas batangan 10 gram seharga Rp 13.000.000;
  • Emas perhiasan 10 gram (22 karat) seharga Rp 14.500.000 (termasuk ongkos pembuatan Rp 1.500.000).

Jika harga emas naik 10% dalam setahun:

  • Emas batangan → nilai jual sekitar Rp 14.300.000 → keuntungan ± Rp 1.300.000
  • Emas perhiasan → toko hanya menilai emas murni (bukan ongkos) → nilai jual ± Rp 13.500.000 → kerugian ± Rp 1.000.000

 Artinya: untuk tujuan investasi murni, emas batangan jauh lebih efisien dan menguntungkan.

 

4. Kalau Begitu Mana yang Cocok untuk Kita?

Tipe Investor

Disarankan

Alasan

Investor konservatif

Emas Batangan

Nilainya stabil dan mudah disimpan

Investor yang suka tampil elegan

Perhiasan

Bisa digunakan sambil berinvestasi ringan

Investor pemula

Emas batangan pecahan kecil (1–5 gram)

Modal terjangkau dan mudah dijual kembali

Investor keluarga

Kombinasi keduanya

Diversifikasi: sebagian emas batangan, sebagian perhiasan

5. Tips Membeli Emas Agar Tidak Rugi

  1. Beli di tempat resmi dan terpercaya, seperti Antam, Pegadaian, UBS, atau toko emas bersertifikat.
  2. Cek sertifikat dan kadar emas sebelum membeli.
  3. Perhatikan selisih harga beli dan jual (spread), semakin kecil, semakin baik untuk investasi.
  4. Simpan bukti pembelian & sertifikat untuk memudahkan saat menjual.
  5. Pantau harga emas dunia & nilai tukar rupiah secara rutin melalui situs resmi seperti Logam Mulia Antam atau Pegadaian Digital.

6 Kesimpulan: Pilih yang Sesuai Tujuan Kita

  • Jika kamu ingin investasi murni dengan potensi keuntungan optimal, pilih emas batangan.
  • Jika kamu ingin investasi ringan sambil tampil gaya, emas perhiasan bisa jadi pilihan, meski margin keuntungannya lebih kecil.

Namun, tidak ada salahnya memiliki kombinasi keduanya, emas batangan untuk tabungan jangka panjang, dan perhiasan untuk gaya hidup yang tetap bernilai.

 

Penutup

Emas akan selalu memiliki nilai sepanjang zaman, baik dalam bentuk batangan maupun perhiasan. Yang paling penting bukan bentuknya, tapi tujuan dan strategi investasimu.

Jika kamu baru mulai, emas batangan lebih menguntungkan secara finansial. Setelah itu, kamu bisa menambah koleksi emas perhiasan sebagai bagian dari diversifikasi dan kenikmatan gaya hidup.

Perbandingan Investasi Emas, Perak, dan Platinum: Mana yang Cocok Untuk Kita?

 


Investasi logam mulia selalu menarik untuk dibahas, pilihan yang paling sering muncul diantaranya adalah Emas, Perak, dan Platinum. Artikel ini akan membandingkan ketiga logam tersebut secara mendalam: karakteristik, kelebihan & kekurangan, serta cocok untuk siapa, agar Kita bisa memilih yang paling sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda. Masing-masing orang berhak menentukan pilihannya untuk investasi.

 

1. Karakteristik Dasar

Emas

Emas sangat dikenal sebagai aset safe-haven atau tempat “melindungi nilai” ketika kondisi ekonomi tidak pasti. Sebagai contoh: harga emas cenderung naik saat terjadi inflasi, melemahnya mata uang, atau krisis geopolitik. (EBC Financial Group).

Kelebihan:

  • Stabilitas relatif lebih baik dibanding logam mulia lainnya. (EBC Financial Group);
  • Likuiditas (kemampuan untuk dijual) lebih baik di pasar Indonesia dibanding perak atau platinum. (https://www.metrotvnews.com);
  • Cocok untuk jangka panjang sebagai “penyimpanan nilai”.

Kekurangan:

  • Karena stabil, potensi “lonjakan besar” mungkin lebih kecil dibanding logam yang lebih volatile.
  • Biaya penyimpanan, keamanan, dan likuiditas tetap menjadi perhatian.

Perak

Perak lebih “terjangkau” untuk investor pemula karena harga per gramnya lebih rendah daripada emas. (https://www.metrotvnews.com)

Karakteristik khusus:

  • Permintaan industri cukup besar, misalnya elektronik, panel surya, fotografi. (EBC Financial Group)
  • Volatilitas lebih tinggi: artinya naiknya bisa lebih tajam, namun penurunannya juga bisa tajam. (OCBC)
  • Karena lebih murah, bisa menjadi opsi “masuk pasar” untuk investor dengan modal lebih kecil. (https://www.metrotvnews.com)

Kekurangan:

  • Likuiditas bisa lebih rendah dibanding emas di banyak tempat. (https://www.metrotvnews.com)
  • Karena fluktuasi besar, risiko juga lebih tinggi, cocok untuk yang tahan risiko.

Platinum

Platinum adalah logam mulia yang lebih langka dibanding emas, dan banyak digunakan dalam aplikasi industri khusus otomotif (konverter katalitik) misalnya. (EBC Financial Group)

Keunikan:

  • Kelangkaan yang lebih tinggi → potensi kenaikan jika permintaan industri kuat dan pasokan terbatas. (EBC Financial Group)
  • Namun, ketika kondisi ekonomi baik/ normal, dan teknologi berubah (misalnya mobil listrik yang tak butuh banyak platinum), maka permintaannya bisa turun. (Kontan)

Kekurangan:

  • Karena “terikat” dengan kondisi industri, platinum bisa lebih riskan dibanding emas.
  • Pasar platinum di Indonesia mungkin kurang likuid atau familiar dibanding emas & perak, artinya mungkin sulit dicairkan dengan cepat.

2. Perbandingan Secara Spesifik

Aspek

Emas

Perak

Platinum

Harga per unit (terjangkau?)

Relatif mahal per gram

Lebih murah → mudah mulai dari modal kecil (https://www.metrotvnews.com)

Umumnya mahal dan butuh modal besar

Volatilitas

Lebih stabil

Lebih tinggi naik-turunnya (EBC Financial Group)

Bisa tinggi tergantung industri

Likuiditas di Indonesia

Baik

Cukup, tapi lebih sulit dibanding emas (Reddit)

Mungkin lebih sulit lagi

Fungsi industri/pakai

Terutama investasi/penyimpanan

Kombinasi investasi + kebutuhan industri (EBC Financial Group)

Sangat berkaitan dengan industri

Cocok untuk profil risiko

Konservatif

Moderat-agresif

Agresif / spesial-case

Fungsi sebagai lindung nilai

Sangat baik

Bisa, tapi risiko lebih besar

Kurang umum untuk lindung nilai

3. Mana yang Cocok Untuk Siapa?

  • Investor konservatif: Jika Anda ingin aman, menyimpan nilai, dan tidak ingin stres dengan fluktuasi besar  maka emas bisa menjadi pilihan utama.
  • Investor dengan modal kecil & siap ambil risiko: Perak bisa cocok karena biaya awal lebih rendah dan potensi naik lebih besar. Namun siap juga dengan risiko penurunan.
  • Investor agresif / spekulan atau yang punya pengetahuan industri: Platinum bisa jadi opsi tambahan, terutama sebagai diversifikasi atau “spekulasi” jangka menengah-panjang, bukan sebagai tulang punggung investasi utama.

4. Tips Praktis Sebelum Memutuskan

  • Pastikan Anda memahami tujuan investasi Anda: Apakah untuk jangka panjang 10-20 tahun, atau jangka pendek?;
  • Kenali profil risiko Anda: Apakah Anda bisa tidur tenang jika harganya turun?;
  • Jangan “all in” pada satu logam, diversifikasi tetap penting. Misalnya kombinasi emas + perak, atau sedikit platinum sebagai “tambahan”;
  • Perhatikan biaya penyimpanan dan likuiditas: Logam mulia fisik membutuhkan tempat yang aman, biaya mungkin ada. Likuiditas logam yang kurang populer bisa lebih rendah.
  • Beli dari sumber yang terpercaya, logam mulia palsu atau biaya tersembunyi bisa merugikan.
  • Pantau kondisi ekonomi global dan industri: misalnya untuk platinum, teknologi industri bisa sangat memengaruhi permintaan.

5. Kesimpulan

Tidak ada jawaban “terbaik mutlak” antara emas, perak, atau platinum, semuanya punya kelebihan dan kekurangan.

  • Emas = pilihan paling aman untuk banyak orang.
  • Perak = pilihan menarik jika Anda ingin potensi lebih besar dengan risiko lebih.
  • Platinum = pilihan niche, lebih spekulatif, dan cocok sebagai bagian kecil dari portofolio.

Jika saya harus merekomendasikan secara umum: Mulailah dengan emas, kemudian jika memungkinkan dan cocok dengan profil risiko Anda, tambahkan perak sebagai “pelengkap”. Platinum bisa dipertimbangkan jika Anda ingin menambah elemen pertumbuhan dan bisa menerima volatilitinya.

Semoga artikel ini membantu Anda dalam memilih logam mana yang paling cocok untuk investasi Anda.


Cara Cerdas Diversifikasi Portofolio dengan Logam Mulia

 


Ingin portofolio investasi yang stabil dan tahan krisis? Pelajari cara cerdas melakukan diversifikasi dengan logam mulia, lengkap dengan strategi, manfaat, dan tips praktis untuk investor pemula hingga profesional.

Kenapa Diversifikasi Itu Penting

Dalam dunia investasi, ada satu prinsip klasik yang tetap relevan hingga hari ini:

"Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang."

Artinya, jangan menaruh seluruh dana Anda pada satu jenis aset saja. Di sinilah diversifikasi portofolio berperan penting.

Dengan memiliki berbagai jenis instrument, seperti saham, obligasi, properti, reksa dana, dan logam mulia (emas) Anda dapat menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil yang sangat memuaskan.

Namun, dari semua instrumen tersebut, logam mulia memiliki posisi istimewa. Ia berfungsi sebagai “penjaga stabilitas” saat pasar bergejolak.

Apa Itu Diversifikasi Portofolio?

Secara sederhana, diversifikasi portofolio adalah strategi untuk menyebar investasi ke berbagai jenis aset dengan tujuan:

  1. Mengurangi risiko kerugian besar
  2. Menjaga nilai kekayaan saat pasar tidak stabil
  3. Menyeimbangkan antara aset berisiko tinggi dan aset aman

Misalnya, ketika harga saham turun karena krisis ekonomi, nilai emas justru cenderung naik. Dengan demikian, portofolio Anda tetap aman secara keseluruhan.

Mengapa Logam Mulia Cocok untuk Diversifikasi?

Berikut beberapa alasan kuat mengapa logam mulia, terutama emas, sangat cocok dijadikan bagian penting dalam diversifikasi:

1. Nilai Stabil & Tahan Inflasi

Emas telah terbukti menjaga nilai kekayaan selama ribuan tahun.
Ketika inflasi naik dan daya beli uang menurun, harga emas justru cenderung meningkat. Ini menjadikannya pelindung nilai (hedge) yang sangat efektif.

2. Safe Haven di Tengah Ketidakpastian

Saat pasar saham anjlok atau ekonomi global tidak menentu, investor dunia biasanya beralih ke emas. Fenomena ini menjadikan emas sebagai aset safe haven tempat perlindungan yang aman bagi kekayaan Anda.

3. Tidak Tergantung pada Pemerintah atau Perusahaan

Logam mulia adalah aset nyata yang tidak bergantung pada kinerja entitas tertentu.
Berbeda dengan saham, obligasi, atau deposito, nilai emas tidak bisa “hilang” karena kebangkrutan.

4. Likuiditas Tinggi

Emas bisa dijual kapan saja, di mana saja, dengan harga pasar yang jelas. Baik emas batangan, koin, maupun emas digital, semuanya memiliki pasar yang luas dan aktif.

Strategi Cerdas Diversifikasi dengan Logam Mulia

Untuk memaksimalkan manfaat emas dalam portofolio, Anda perlu strategi yang tepat. Berikut langkah-langkah cerdasnya:

1. Tentukan Persentase Ideal

Jangan terlalu banyak, tapi juga jangan terlalu sedikit. Idealnya, alokasikan 10–20% dari total portofolio Anda ke logam mulia. Tujuannya bukan mencari keuntungan besar, melainkan menjaga kestabilan nilai total investasi Anda.

2. Kombinasikan dengan Aset Berisiko Lain

Gabungkan logam mulia dengan:

  • Saham atau reksa dana saham untuk potensi pertumbuhan tinggi
  • Obligasi untuk pendapatan stabil
  • Properti untuk kenaikan nilai jangka panjang

Dengan kombinasi ini, portofolio Anda akan lebih seimbang antara risiko dan keuntungan.

3. Gunakan Strategi Pembelian Bertahap (DCA)

Gunakan metode Dollar-Cost Averaging (DCA), membeli emas secara rutin (misal setiap bulan), agar harga rata-rata pembelian tetap stabil meskipun pasar naik-turun.

4. Pilih Jenis Logam Mulia yang Tepat

Beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan:

  • Emas Antam (LM) sangat terpercaya dan bersertifikat;
  • UBS Gold juga populer dan mudah dijual Kembali;
  • Emas Digital sangat praktis, bisa dibeli mulai dari 0,01 gram.

5. Pastikan Keaslian & Tempat Penyimpanan Aman

Selalu beli dari sumber resmi seperti PT Antam, Pegadaian, Tokopedia Emas, Pluang, atau Lakuemas. Gunakan brankas pribadi, safe deposit box, atau layanan penyimpanan logam mulia resmi.

Contoh Penerapan Diversifikasi Portofolio

Misalnya, Anda memiliki total dana investasi Rp100 juta. Berikut contoh pembagian portofolio yang ideal:

Jenis Aset

Persentase

Nominal

Saham / Reksa Dana Saham

40%

Rp40 juta

Obligasi / Sukuk

20%

Rp20 juta

Logam Mulia (Emas)

15%

Rp15 juta

Deposito / Tabungan

15%

Rp15 juta

Properti / Bisnis Kecil

10%

Rp10 juta

Dengan komposisi seperti ini, ketika saham anjlok, nilai emas dapat menahan kerugian total portofolio Anda.

Kapan Waktu Terbaik untuk Membeli Logam Mulia?

Tidak ada waktu “sempurna”, tapi beberapa kondisi berikut biasanya jadi momen tepat untuk mulai membeli:

  • Saat inflasi mulai naik
  • Saat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar
  • Saat pasar saham atau kripto terlalu volatil
  • Saat harga emas dunia sedang turun (koreksi jangka pendek)

Jika sulit menentukan waktu, gunakan strategi pembelian rutin agar tidak perlu menebak pasar.

Kesimpulan: Logam Mulia, Pilar Stabilitas Portofolio

Dalam dunia investasi yang penuh ketidakpastian, logam mulia tetap menjadi pondasi stabilitas.

Diversifikasi portofolio dengan logam mulia bukan sekadar “menambah aset”, tetapi strategi melindungi nilai kekayaan Anda dari risiko pasar. Dengan alokasi yang tepat, pembelian bertahap, dan pemilihan produk resmi, Anda bisa menikmati manfaat emas tanpa kehilangan peluang dari aset lainnya.

Ingat: tujuan investasi bukan hanya mencari keuntungan besar, tetapi juga menjaga agar nilai kekayaan Anda tetap aman di masa depan.

Mengapa Logam Mulia Masih Jadi Pilihan Investasi Teraman di 2026

 


Dunia Tak Stabil, Emas Tetap Bersinar

Setiap kali ekonomi global mengalami gejolak, mulai dari inflasi, pelemahan mata uang, hingga ketegangan geopolitik, satu jenis investasi selalu jadi incaran: logam mulia, terutama emas batangan (Emas Antam).

Alasannya sederhana: logam mulia bukan sekadar perhiasan, tapi pelindung kekayaan. Bahkan di era kripto dan saham digital, emas masih mempertahankan reputasinya sebagai aset paling aman di dunia.

Apa Itu Logam Mulia?

Secara umum, logam mulia adalah jenis logam yang memiliki nilai tinggi karena langka, tidak mudah berkarat, dan diakui secara universal sebagai penyimpan nilai.
Jenis-jenis logam mulia yang populer untuk investasi meliputi:

  • Emas (Gold) adalah yang paling umum untuk investasi pribadi.
  • Perak (Silver) Adalah alternatif lebih terjangkau.
  • Platinum dan Palladium Adalah lebih langka dan banyak digunakan di industri otomotif

Namun dalam konteks investasi ritel, emas batangan adalah bentuk logam mulia paling populer dan mudah diperjualbelikan.

Mengapa Logam Mulia Masih Jadi Pilihan Investasi Teraman?

1. Lindung Nilai dari Inflasi

Ketika harga-harga naik dan nilai uang menurun, emas justru menguat. Sejarah membuktikan: saat inflasi tinggi, harga emas ikut melonjak. Misalnya, saat inflasi global naik pada 2022–2023, harga emas sempat menyentuh US$ 2.000 per ons rekor sangat tertinggi saat itu. Sungguh menggiurkan investasi Logam Mulia itu.

Fakta: Nilai emas meningkat rata-rata 8–10% per tahun dalam 20 tahun terakhir (sumber: World Gold Council).

2. Aset Nyata, Bukan Sekadar Angka Digital

Berbeda dengan saham atau aset kripto yang bergantung pada sistem dan pihak ketiga, emas adalah aset nyata (tangible asset). Anda bisa menyimpannya sendiri dalam bentuk batangan bersertifikat seperti:

  • Emas Antam
  • UBS
  • Emas LM (Logam Mulia)

Artinya, nilai emas tidak bisa hilang hanya karena pasar ambruk atau server down.

3. Likuiditas Tinggi & Diterima di Seluruh Dunia

Emas adalah salah satu aset paling mudah dicairkan di dunia. Anda bisa menjualnya kapan pun, di mana pun, dari toko emas lokal hingga platform online seperti Pegadaian Digital, Lakuemas, atau Pluang.

4. Aman Saat Krisis Global (Safe Haven Asset)

Setiap kali ekonomi dunia tidak stabil, investor besar memindahkan dana ke emas. Fenomena ini membuat emas disebut safe haven, tempat berlindung ketika investasi lain berisiko tinggi.
Contohnya, saat pandemi COVID-19 dan konflik Rusia-Ukraina, harga emas justru naik signifikan karena banyak orang “menyimpan” kekayaannya di logam mulia.

5. Nilainya Terbukti Sepanjang Zaman

Sejarah membuktikan Sejak ribuan tahun lalu  dari kerajaan Mesir hingga era modern emas selalu menjadi simbol kekayaan dan stabilitas ekonomi. Kepercayaan kolektif inilah yang membuat logam mulia memiliki nilai yang tidak pernah benar-benar hilang.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski aman, investasi logam mulia tetap punya risiko yang perlu Anda pahami:

  • Harga bisa fluktuatif dalam jangka pendek;
  • Spread harga jual-beli cukup tinggi;
  • Risiko penyimpanan (pencurian, kehilangan) jika tidak disimpan di tempat aman;
  • Tidak menghasilkan passive income, berbeda dengan deposito atau saham dividen.

Namun dibandingkan dengan potensi risikonya, emas tetap unggul sebagai pelindung nilai jangka panjang.

Cara Cerdas Berinvestasi Logam Mulia

  1. Beli dari sumber terpercaya
    Gunakan toko emas resmi seperti Logam Mulia Antam, Pegadaian, UBS, atau marketplace berizin OJK.
  2. Gunakan strategi dollar-cost averaging (DCA)
    Beli emas secara rutin dalam jumlah kecil, agar harga rata-rata pembelian tetap stabil.
  3. Gunakan layanan penyimpanan aman
    Simpan emas di brankas pribadi atau layanan penyimpanan resmi seperti Brankas LM Antam atau Pegadaian Safe Deposit Box.
  4. Diversifikasi portofolio
    Idealnya, alokasikan 10–20% dari total aset investasi Anda pada logam mulia.
  5. Pantau harga pasar emas dunia
    Gunakan situs resmi seperti logammulia.com atau goldprice.org untuk update harian.

Kesimpulan

Logam mulia tetap menjadi investasi paling aman dan stabil di tahun 2026.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, logam mulia,  terutama emas masih menjadi pilihan utama investor profesional maupun masyarakat umum.
Kelebihannya sebagai aset lindung nilai, likuid, dan berusia ribuan tahun membuat emas tak tergantikan hingga kini.

Kesimpulannya, jika Anda mencari investasi yang aman, mudah, dan tahan inflasi, logam mulia adalah jawabannya.

Mengapa Logam Mulia Masih Jadi Pilihan Investasi Teraman

 


Image

Image

Image

Dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu dan penuh ketidakpastian mulai dari inflasi, fluktuasi mata uang, hingga krisis geopolitik, banyak investor mencari instrumen mencari alternatif lain yang aman untuk menjaga nilai kekayaan mereka. Salah satu instrumen yang kembali mencuat adalah investasi logam mulia mulia yang saat ini banyak diburu orang, terutama emas. Berikut artikel yang mengulas secara mendalam mengapa investasi logam mulia masih dianggap sebagai pilihan yang relatif aman, serta bagaimana Anda bisa memanfaatkan keunggulan ini dengan sebaik-baiknya.

1. Apa itu “logam mulia”?

Logam mulia adalah logam yang memiliki sifat tahan korosi, relatif langka, serta banyak diterima sebagai penyimpan nilai. Contoh paling populer adalah emas, perak, platinum, dan palladium. Namun, dalam praktik investasi ritel di banyak negara, emas (sering disebut “emas batangan” atau “logam mulia emas”) yang paling umum digunakan.

2. Alasan Utama: Mengapa logam mulia dianggap investasi yang aman

Berikut beberapa alasan utama mengapa logam mulia masih populer sebagai pilihan investasi aman:

a. Lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang

Logam mulia seperti emas memiliki sifat yang secara historis mempertahankan nilai belinya dalam jangka panjang. Saat mata uang mengalami depresiasi atau inflasi naik, daya beli uang kertas berkurang, sementara logam mulia cenderung naik atau paling tidak tidak jatuh drastis. (HSB Investasi)
Sebagai contoh: “Emas dapat melindungi nilai kekayaan Anda. Dibandingkan mata uang yang relatif terus menurun, nilai emas justru lebih stabil.” (Logam Mulia)

b. Aset nyata (tangible asset) yang tidak bergantung pada pihak ketiga

Berbeda dengan saham atau obligasi yang risiko counterparty-nya (misalnya gagal bayar) lebih besar, logam mulia fisik adalah aset nyata yang Anda pegang sendiri. Artinya, nilainya tidak bergantung pada kinerja perusahaan atau penerbit aset keuangan. (HSB Investasi)

c. Likuiditas yang cukup baik

Meskipun properti atau karya seni mungkin memerlukan waktu lama untuk dicairkan, logam mulia relatif lebih mudah dijual. Hal ini menjadikannya sebagai instrumen yang bisa dicairkan ketika dibutuhkan. (HSB Investasi)

d. Diversifikasi portofolio dan safe haven

Logam mulia sering dianggap sebagai “safe haven”, aset yang dicari para investor ketika terjadi gejolak pasar saham atau kondisi makro ekonomi memburuk. Dengan memiliki sebagian portofolio dalam logam mulia, Anda bisa mengurangi risiko total portofolio. (Bareksa.com)

e. Nilai yang telah teruji waktu

Dari zaman ke zaman, masyarakat di banyak budaya telah menggunakan emas sebagai simbol kekayaan dan alat tukar. Nilainya tidak hanya karena kilauannya, tetapi karena kepercayaan kolektif terhadap kemampuannya menjaga nilai.

3. Namun Perlu di Ingat: “Aman” bukan berarti tanpa risiko

Meski memiliki banyak keunggulan, penting untuk menyadari bahwa investasi logam mulia tidak bebas risiko. Berikut beberapa catatan yang perlu diperhatikan:

  • Karena likuiditasnya baik tetapi tidak setinggi uang tunai atau deposito, harga jual bisa dipengaruhi oleh spread (selisih antara harga beli dan harga jual) yang cukup besar. (Logam Mulia)
  • Kenaikan harga logam mulia cenderung lebih lambat dibanding aset spekulatif seperti saham atau kripto. Artinya, potensi keuntungan besar dalam waktu singkat tidak sebanding dengan beberapa aset berisiko tinggi. (Investing.com Indonesia)
  • Penyimpanan fisik memerlukan perhatian ekstra: keamanan, keaslian, sertifikat, dan risiko pencurian. (Logam Mulia)
  • Volatilitas tetap ada: meskipun dianggap aman, harga logam mulia bisa menurun tergantung kondisi global (misalnya penguatan dolar, suku bunga naik).

4. Strategi Cerdas dalam Berinvestasi Logam Mulia

Agar Anda bisa memaksimalkan manfaat logam mulia sebagai instrumen investasi, berikut beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan:

  1. Jangka panjang
    Gunakan logam mulia sebagai bagian dari strategi jangka Panjang, minimal 3-5 tahun atau lebih agar nilai kenaikannya bisa optimal untuk mengimbangi biaya spread dan risiko jangka pendek. (Logam Mulia)
  2. Proporsi dalam portofolio
    Jangan semua dana diinvestasikan ke logam mulia. Sebaiknya ada porsi yang wajar, bersama instrumen lain seperti saham, obligasi atau properti, untuk diversifikasi risiko.
  3. Beli saat kondisi mendukung
    Perhatikan indikator seperti inflasi, suku bunga, nilai mata uang utama, karena harga logam mulia sering naik ketika kondisi ekonomi memburuk. (kontan.co.id)
  4. Pilih logam mulia yang terverifikasi
    Pastikan keaslian, kemurnian (misalnya 99,99%), sertifikat resmi, dan pembelian melalui platform atau seller resmi. (Logam Mulia)
  5. Pahami penyimpanan dan likuidasi
    Tentukan tempat penyimpanan aman (brankas, bank, layanan penyimpanan), dan kenali bagaimana cara menjual kembali dengan mudah dan aman.

5. Ringkasan & Kesimpulan

  • Logam mulia tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang aman, terutama sebagai lindung nilai dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
  • Keunggulannya: aset nyata, likuid relatif, dan berfungsi sebagai safe haven.
  • Namun, investasi ini bukan tanpa kekurangan: kenaikan nilai cenderung lambat, ada risiko penyimpanan, dan tetap dipengaruhi kondisi global.
  • Strategi yang tepat: gunakan untuk jangka panjang, diversifikasi portofolio, beli dari pihak tepercaya, dan pahami likuidasi serta biaya terkait.

HUKUM, KETATANEGARAAN DAN KONSTITUSI

IMPLIKASI PERUBAHAN KEDUDUKAN MPR TERHADAP MEKANISME CHECKS AND BALANCES DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

  Abstrak Perubahan struktur ketatanegaraan Indonesia melalui amandemen UUD 1945 telah menggeser kedudukan MPR dari lembaga tertinggi menj...

Pak Jokowi, Kami Dosen Belum Menerima Tunjangan Covid-19